Skip navigation

eeeeeeeeeeeeASOSIASI Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Yogyakarta tampaknya ingin mencuri start memprediksi kecenderungan tren mode yang bakal terjadi di tahun 2009.

Terbukti, di ajang Jogja Fashion Week (JFW) 2008, sebanyak 14 perancang APPMI menggelar acara bertajuk Fashion Tendance 2009.

Ajang Fashion Tendance 2009 kali ini mengambil tema “An Unduring Culture” yang berarti ingin merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia lewat rancangan busana.

“Ajang ini merupakan media untuk berekspresi dan berimprovisasi dari APPMI Yogyakarta. Melalui ajang ini kami pun bisa membantu memberikan masukan informasi kepada masyarakat Yogyakarta bagaimana mereka berbusana yang baik dan mengikuti perkembangan tren mode terkini,” tutur Ninik Darmawan, Ketua APPMI Yogyakarta dalam sambutannya di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Sabtu (30/8/2008) malam.

Para desainer yang kali ini berpartisipasi dalam ajang Fashion Tendance, antara lain Dandy T Hidayat, Mia Ridwan, Amin Hendra Wijaya, Alma Riva, Bondet Pamularsih, Wiwin Fitriana, Michael, Afif Syakur, Dina Isfandiary, dan Ninik Darmanan. Selain mereka ada juga Lia Mustafa, Indraty Setyawan, Dewi Syifa, dan Manik Puspito.

Seperti pergelaran fesyen yang sebelumnya digelar di ajang JFW 2008, kali ini setiap perancang juga memamerkan delapan karya busana, yang terdiri dari empat koleksi wanita dan dua koleksi pria. Busana yang dipamerkan pun cukup beragam, mewakili busana muslim dan nonmuslim.

Misalnya Alma Riva yang memperkenalkan koleksi berjudul “Crossing Culture”. Koleksinya memang terlihat cukup unik di mana dia mengkolaborasikan gaya berbusana orang Jepang dengan menggunakan batik tradional Indonesia. Agar busananya berkesan mewah, dia pun berstrategi menempatkan detail busana berupa payet dan bodir dalam jumlah yang cukup proporsional.

Sementara koleksi Lia Mustafa juga tak kalah menarik. Mengambil judul koleksi “Amazing of Batik Banyumasan”, Lia mengaku mendapat inspirasi dari wanita samurai di zaman Tokugawa. Menurutnya, di zaman itu perempuan yang sudah menikah adalah orang terpelajar juga ahli filosofi dan kesustraan. Mereka bahkan dilatih untuk memegang naginata atau pisau dalam mempertahankan diri.

“Saya menggambarkan wanita samurai itu sebagai wanita yang taat, rendah hati, mempunyai kekuatan dan kesetiaan. Oleh karena itu karakter busana saya memberikan kesan kuat, tangguh, mandiri, dan modern,” ujar Lia Mustafa kepada okezone yang mengaku banyak memanfaatkan material sifon sutra dan batik banyumasan.

Koleksi yang ditampilkan 14 perancang APPMI Yogyakarta memang terlihat jauh ada peningkatan, meskipun karakter koleksinya sangat personal dan pemakaian tekstil batik masih sangat kuat.

“Busana batik memang sedang menjadi primadona, tetapi suatu ketika bisa tenggelam jika perancang tidak melakukan inovasi-inovasi untuk menampilkan busana tersebut tampil beda. Untuk itulah saya piker setiap desainer harus memikirkan bagaimana bisa membuat karya yang selalu up to date,” saran penasihat APPMI Musa Widyatmodjo kepada okezone, seusai pergelaran busana.(tty)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: