Skip navigation

Universitas Negeri Yogyakarta adalah salah satu Universitas yang bergengsi di Indonesia,Universitas Negeri Yogyakarta mempunyai banyak program didik dan salah satunya adalah pendidikan teknik busana yang ada di fakultas teknik Uny, visi dan misi Fakultas Teknik UNY adalah:

Visi:

menjadi barometer Fakultas teknik di Indonesia yang mampu menghasilkan tenaga kependidikan dan non kependidikan teknik yang cendekia, profesional, mandiri dan bernurani, sesuai dengan tuntutan perkembangan ilmu dan teknologi di era global.
Misi:

  • Menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran yang sinergis antara jalur S1 kependidikan danD3 non kependidikan.
  • Melaksanakan penelitian untuk pengembangan ilmu pendidikan kejuruan dan produk teknlogi yang dibutuhkan masyarakat.
  • Melaksanakan pengabdian kepada masyarakat sesuai dengan ilmu dan produk teknologi yang dikembangkan Fakultas Teknik.
  • Mengembangkan berbagai sumber daya dan kerjasama untuk mendukug pencapaian visi dan misi fakultas.

Kebijakan mutu:

  • Meningkatkan mutu masukan melalui seleksi jalur bibit unggul, bibit daerah dan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru.
  • Meningkatkan mutu proses belajar mengajar melalui peningkatan relevansi kurikulum, peningkatkan profesionalisme, tenaga pengajar, peningkatan kualitas sarana dan prasarana, dan peningkatan kualitas manajemen pembelajaran.
  • Meningkatkan indeks prestasi lulusan, penurunan lama studi, dan peningkatan kecepatan memperoleh pekerjaan.
Pendidikan teknik busana menawarkan pendidikan yang berkualitas dan dapat dipercaya dan menhasilkan lulusan yang berpotensi dan bisa membuka lapangan pekerjaan sendiri sehingga dapat mengurangi jumlah pengangguran.

Pernikahan adalah sebuah buku yang halaman pertamnya dibuka dengan puisi, dan halaman berikutnya berisi prosa, “ kata Beverly Nichols, seorang pujangga Inggris. Tak aneh jika hari pernikahan dianggap sebagai salah satu hari paling istimewa dalam hidup setiap orang. Pada hari itu, segala sesuau harus istimewa, termasuk baju yang dikenakan. Hari itu rakyat jelata berdandan ala pangeran dan putri kerajaan.

Dari masa ke masa, model gaun pengantin terus berkembang. Tapi ada satu hal yang tetap. Apa pun modelnya,s emua jenis busana pengantin umumnya meniru busana pengantin umumnya meniru busana kebesaran kaum bangsawan setempat. Di jawa misalnya, pasangan pengantin berdandan seperti keluarga keraton. Tak peduli kelas sosialnya.

Sutiyem, yang setiap hari pergi ke pasar memakai jarik lusuh, saat di pelaminan mengenakan kebaya dan bersanggul layaknya putri raja. Sedangkan Partono, yang setiap hari pergi ke sawah memakai celana usang, di hari istimewa itu mengenakan blangkon dengan keris di pinggang tak ubahnya putra mahkota.

Semua modal busana pengantin di setiap masyarakat dipengaruhi oleh agama dan budaya setempat. Tapi dari sekian banyak model busana pengantian, tampaknya yang paling populer adalah pakaian pengantin ala masyarakat Barat. Pria memakai setelan jas lengkap. Sedangkan wanita memakai gaun putih khas putri kerajaan Inggris. Adalah Ratu Victoria, ratu Inggris, yang membuat warna putih menjadi warna favorit gaun pengantin. Saat menikah dengan pangeran Albert tahun 1840, ia mengenakan gaun putih dengan rancangan cantik yang membuat para wanita bermimpi untuk bisa mengenakan gaun serupa saat menikah.

Gaun model putri Inggris ini tidak statis, tapi terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Mesiki putih menjadi warna favorit, warna-warni lain tetap punya penggemar di kalangan tertentu. Termasuk dalam budaya Barat yang masih diwarnai kepercayaan tentang adanya hubungan antara warna gaus pengantin dan kehidupan rumah tangga. Kata kepercayaan itu, hanya warna putih yang melambangkan segala jenis kebaikan. Dengan warna perlambang kesucian itu. Saat berada di pelaminan, para mempelai berharap mereka dikelilingi oleh peri-peri cinta yang datang dari surga.

Setelah era Victoria, taip dasawarsa biasanya muncul model baru gaun pengantin. Mulai dari model rok yang serupa tabung kerucut, lengan yang menciut di ujungnya, hingga korset di pinggang sehingga mempelai kelihatan ramping.

Sekitar tahun 1870-an, tren gaun gaya victoria berkembang dengan dua ciri khas, yaitu cadar dan “buntut” yang dibiarkan menyapu lantai saat mempelai wanita berjalan. Di samping melambangkan kesucian dan keperawanan, cadar juga dipercaya melindungi mempelai wanita dari spirit negatif?

Salah satu ciri gaun pengantin yang tak pernah berubah dari masa ke masa adalah bunga. Selian karena alasan keindahan, bunga juga dipercaya sebagai simbol cinta dan kesuburan. Pada era Romawi kuno, bunga juga dipakai sebagai alat pengusir kekuatan jahat. Tak aneh jika mereka memasukkan siung ke bawang yang baunya langu diantara rangkaian bunga-bunga yang indah dan wangi itu.

Sebagai busana hari istimewa, gaun pengantin punya fungsi utama, membuat mempelai wanita tampak jauh lebih mempesona dari biasanya. Apa pun modelnya, gaun pengantin tak pernah kehilangan fungsi ini. Dengan bra khusus, mempelai yang kurang tinggi bisa kelihatan semampai. Yang berbadan gendut bisa tampak jadi sintal. Bahkan, dengan pakaian khusus pinggul yang tepos pun bisa tampak berisi.

Saking pentingnya fungsi ini, sering unsur kenyamanan dinomorduakan. Karena harus tampil cantik luar biasa, tak jarang mempelai perempuan sampai sulit berjalan. Bagi mereka, tak apalah sedikit susah bergerak asalkan di hari itu mereka bisa tampil cantik jelita bak bidadari yang baru turun dari pelangi. Toh menjadi pengantin, Cuma sekali sumur hidup. Jika mungkin, gaun itu harus bisa mmbuat semua undangan tak henti berdecak kagum dan berseru,” Amboi, Cantiknya

 

eeeeeeeeeeeeASOSIASI Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) Yogyakarta tampaknya ingin mencuri start memprediksi kecenderungan tren mode yang bakal terjadi di tahun 2009.

Terbukti, di ajang Jogja Fashion Week (JFW) 2008, sebanyak 14 perancang APPMI menggelar acara bertajuk Fashion Tendance 2009.

Ajang Fashion Tendance 2009 kali ini mengambil tema “An Unduring Culture” yang berarti ingin merepresentasikan kekayaan budaya Indonesia lewat rancangan busana.

“Ajang ini merupakan media untuk berekspresi dan berimprovisasi dari APPMI Yogyakarta. Melalui ajang ini kami pun bisa membantu memberikan masukan informasi kepada masyarakat Yogyakarta bagaimana mereka berbusana yang baik dan mengikuti perkembangan tren mode terkini,” tutur Ninik Darmawan, Ketua APPMI Yogyakarta dalam sambutannya di Pagelaran Kraton Yogyakarta, Sabtu (30/8/2008) malam.

Para desainer yang kali ini berpartisipasi dalam ajang Fashion Tendance, antara lain Dandy T Hidayat, Mia Ridwan, Amin Hendra Wijaya, Alma Riva, Bondet Pamularsih, Wiwin Fitriana, Michael, Afif Syakur, Dina Isfandiary, dan Ninik Darmanan. Selain mereka ada juga Lia Mustafa, Indraty Setyawan, Dewi Syifa, dan Manik Puspito.

Seperti pergelaran fesyen yang sebelumnya digelar di ajang JFW 2008, kali ini setiap perancang juga memamerkan delapan karya busana, yang terdiri dari empat koleksi wanita dan dua koleksi pria. Busana yang dipamerkan pun cukup beragam, mewakili busana muslim dan nonmuslim.

Misalnya Alma Riva yang memperkenalkan koleksi berjudul “Crossing Culture”. Koleksinya memang terlihat cukup unik di mana dia mengkolaborasikan gaya berbusana orang Jepang dengan menggunakan batik tradional Indonesia. Agar busananya berkesan mewah, dia pun berstrategi menempatkan detail busana berupa payet dan bodir dalam jumlah yang cukup proporsional.

Sementara koleksi Lia Mustafa juga tak kalah menarik. Mengambil judul koleksi “Amazing of Batik Banyumasan”, Lia mengaku mendapat inspirasi dari wanita samurai di zaman Tokugawa. Menurutnya, di zaman itu perempuan yang sudah menikah adalah orang terpelajar juga ahli filosofi dan kesustraan. Mereka bahkan dilatih untuk memegang naginata atau pisau dalam mempertahankan diri.

“Saya menggambarkan wanita samurai itu sebagai wanita yang taat, rendah hati, mempunyai kekuatan dan kesetiaan. Oleh karena itu karakter busana saya memberikan kesan kuat, tangguh, mandiri, dan modern,” ujar Lia Mustafa kepada okezone yang mengaku banyak memanfaatkan material sifon sutra dan batik banyumasan.

Koleksi yang ditampilkan 14 perancang APPMI Yogyakarta memang terlihat jauh ada peningkatan, meskipun karakter koleksinya sangat personal dan pemakaian tekstil batik masih sangat kuat.

“Busana batik memang sedang menjadi primadona, tetapi suatu ketika bisa tenggelam jika perancang tidak melakukan inovasi-inovasi untuk menampilkan busana tersebut tampil beda. Untuk itulah saya piker setiap desainer harus memikirkan bagaimana bisa membuat karya yang selalu up to date,” saran penasihat APPMI Musa Widyatmodjo kepada okezone, seusai pergelaran busana.(tty)

Renungan Ibu

Suatu ketika, seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia. Menjelang
diturunkan, dia bertanya kepada Tuhan,
” Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimku ke dunia. Tetapi bagaimana cara saya hidup di sana ? saya begitu kecil dan lemah.” kata si bayi.
Tuhan menjawab, “Aku telah memilih satu melaikat untukmu, ia akan menjaga dan mengasihimu.”
“Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa, ini cukup bagi saya untuk bahagia.” kata si bayi.
Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih bahagia.”
Si bayipun bertanya kembali, “Dan apa yang saya lakukan saat saya ingin berbicara dengan – Mu?”
Sekali lagi Tuhan menjawab, “Malaikatmu akan
mengajarkan bagaimana kamu berdoa.”
Si bayipun masih belum puas, ia bertanya lagi, “Saya
mendengar di bumi banyak orang jahat, siapa yang akan melindungi
saya?”
Dengan penuh kesabaran Tuhan pun menjawab, “Malaikatmu akan melindungimu dengan taruhan jiwanya sekalipun.”
Si bayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya, “Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi.”
Dan Tuhanpun menjawab, “Malaikatmu akan menceritakanmu tentang Aku, dan akan mengajarkan bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku. Walaupun sesungguhnya Aku selalu berada disimu.”
Saat itu surga begitu tenangnya, sehingga suara dari bumi dapat terdengar, dan sang anak dengan suara lirih bertanya, “Tuhan…jika saya harus pergi sekarang, bisakah Engkau memberitahu siapa nama malaikat dirumahku nanti?”
Tuhanpun menjawab, “Kamu dapat memanggil malaikatmu dengan sebutan ‘IBU’…”
Kenanglah Ibu yang menyayangimu. Untuk Ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi…
Ingatkah engkau ketika, ibumu rela tidur tanpa selimut demi milihatmu tidur nyeyak dengan dua selimut membalut tubuhmu?
Ingatkah ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu ?
….dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia melihatmu terbaring sakit?
Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah… tempat kau dilahirkan.
Kembalilah memohon maaf pada ibumu yang selalu rindu akan senyumanmu.
Jangan biarkan engkau kehilangan saat-saat yang akan kau rindukan di masa datang. Ketika ibu telah tiada…
Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita,
Tak ada lagi senyuman indah… tanda bahagia.
Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya.
Yang ada hanya baju yang digantung di lemari kamarnya.
Tak ada lagi dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata yang mendo’akanmu disetiap hembusan nafasnya.
Kembalilah segera…
peluklah ibu yang selalu menyayangimu…
Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik diakhir hayatnya…
Kenanglah semua cinta dan kasih sayangnya


Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!